Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

Followers

Tampilkan postingan dengan label kabar-pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabar-pendidikan. Tampilkan semua postingan

Zaman sekarang anak tidak cukup mendapat pendidikan di sekolah formal saja tapi juga di luar sekolah


Masih teringat di dalam benak Saya ketika salah seorang orang tua murid pernah mengatakan bahwa “zaman sekarang anak tidak cukup mendapat pendidikan di sekolah formal saja tapi juga di luar sekolah”. Kata-kata orang tua murid tersebut menimbulkan ide Saya untuk mengulas lebih jauh tentang pendidikan nonformal yang kini kian marak beredar di sekitar kita. 


Pada dasarnya ada tiga jenis pendidikan  beserta uraiannya yaitu :
1. pendidikan formal

Adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri ataspendidikan anak usia dini (TK/RA),pendidikan dasar (SD/MI),pendidikan menengah (SMP/MTs dan SMA/MA), danpendidikan tinggi (Universitas). Pendidikan formal terdiri dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta.

2. pendidikan nonformal 

Adalah jalur pendidikan di luarpendidikan formalyang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

3. pendidikan informal 

Adalah jalur pendidikan  berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan. 

Kita sebagai masyarakat yang peduli akan dunia pendidikan wajib hukumnya tahu apa dan bagaimana peran ketiga jenis pendidikan ini. Dari ketiga jenis pendidikan ini, Saya hanya ingin mengulas sedikit tentang pendidikan nonformal yang turut berperan dalam upaya peningkatan kualitas dunia pendidikan. Jenis dan Sasaran Pendidikan Nonformal Pendidikan nonformal adalah salah satu bentuk layanan pendidikan yang bertujuan sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Adapun jenis pendidikan nonformal dapat berupa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. 

Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim, sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Dengan bermunculannya pendidikan nonformal di sekitar kita maka diharapkan anak akan mendapatkan nilai dan ilmu lebih dari apa yang telah mereka dapatkan di sekolah dan lingkungan keluarganya. 

Sesungguhnya pendidikan nonformal adalah pendukung dari pendidikan formal yang anak-anak wajib hukumnya dapatkan di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta. Pendidikan Nonformal juga pendukung dari pendidikan informal yang anak-anak harus terima dari lingkungan keluarga. Dalam hal ini menyangkut pendidikan agama, budi pekerti, etika, sopan santun, moral dan sosialisasi yang seharusnya diperkenalkan perdana sekali oleh kedua orang tua mereka. Terkadang tidak sedikit orang tua yang melupakan peran pentingnya dalam mengutamakan pendidikan informal melalui tangan mereka sendiri. Mereka lebih puas jika pendidikan informal itu menjadi tugas rangkap para pendidik di pendidikan nonformal. 

Lihat saja sekarang, anak usia dibawah 3 tahun saja sudah banyak yang dididik di PAUD padahal sudah menjadi peran penting orang tua lah pendidikan anak usia dini. Segala sesuatu harus berawal dari keluarga karena hal itulah yang akan menciptakan kepribadian anak nantinya. Intinya, pendidikan nonformal hanyalah pendukung dari segala jenis pendidikan. Peran Pendidikan Nonformal Kehadiran berbagai PAUD dan lembaga pendidikan nonformal yang kian beredar di sekitar kita menunjukkan betapa pedulinya oknum pendidik nonformal terhadap dunia pendidikan nonformal. Ini akan sangat membantu para orang tua yang menginginkan nilai lebih yang dihasilkan anak-anak mereka sebagai bentuk pendukung pendidikan formal yang anak terima di sekolah. Dalam hal ini peran penting pendidikan nonformal sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan yang bertujuan sebagai pengganti, penambah, dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat bergerak sebagaimana mestinya. 

Masyarakat patut bersyukur dengan keberadaan pendidikan nonformal maka kebutuhan anak-anak dalam mengganti, menambah dan melengkapi pendidikan formal mereka bisa terpenuhi. Sebut saja berbagai contoh yang ada di sekitar kita saat ini; dengan adanya Sanggar Kegiatan Belajar yang menawarkan pembelajaran seperti di sekolah formal tapi dengan keringanan jam belajar membantu anak-anak untuk tetap bersekolah di waktu mereka yang mungkin tidak sefleksibel anak-anak di sekolah formal. Pengadaan Program Paket A, B dan C oleh pendidikan nonformal membantu semangat anak-anak yang tidak lulus sekolah formal kembali berkobar karena peraturan pemerintah yang menyatakan ijazah mereka setara dengan anak-anak yang menimba ilmu di sekolah formal. Kemunculan banyaknya PAUD cukup meringankan beban orangtua yang mungkin sebagian besar waktunya terkuras akan dunia karir mereka. Di PAUD, anak-anak dipastikan mendapatkan dasar pendidikan formal sebagai bekal mereka sekolah nanti dan tambahan pendidikan informal sebagai pelengkap pendidikan informal yang mereka dapatkan di lingkungan keluarga. Banyaknya Lembaga Kursus dan Bimbingan Belajar yang kian marak di sekitar kita dapat menjadi penambah dan pelengkap ilmu yang anak-anak peroleh di sekolah formal. 

Sungguh besar peran dunia pendidikan nonformal. Bersikap selektif Menilik banyaknya PAUD, lembaga kursus dan bimbingan belajar yang berlomba-lomba menawarkan keunggulan dari masing-masing lembaga, banyak orang tua berbondong-bondong mengantarkan anak-anaknya ke lembaga pelayanan pendidikan nonformal tersebut berharap buah hati mereka mendapatkan pendidikan tambahan yang tepat dan baik untuk melengkapi kebutuhan pendidikan formal mereka. Oleh karena itu sudah selayaknya orang tua bersikap selektif dalam memilih PAUD, lembaga kursus dan bimbingan belajar yang tepat untuk anak-anak mereka mengingat kian maraknya keberadaan layanan pendidikan nonformal yang hanya berasas manfaat. 

Jadi, meninjau betapa banyak kelebihan yang ditawarkan pendidikan nonformal dalam rangka melengkapi pendidikan formal dan informal sudah sepantasnya lah kita sebagai masyarakat yang peduli akan pendidikan generasi penerus bangsa memilih yang terbaik dan sesuai kualitas yang ditawarkan. Jangan lupa untuk menjadi saksi keberhasilan anak-anak akan proses belajar yang dilakukan selama anak-anak dalam masa pembelajaran di PAUD, Lembaga Kursus dan Bimbingan Belajar di sekitar kita. Buat anak, jangan coba-coba. Apalagi menyangkut pendidikan yang bersifat mendidik sepanjang hayat. Jadilah pendidik sejati yang berawal dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa. (Jal)

UNGKAP BALIK HARI KEBANGKITAN NASIONAL YANG DI PERINGATI SETIAP TANGGAL 20 MEI

Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei. Pada tahun 2016 ini, kita selaku bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kebangkitan Nasional tersebut yang ke 108. Dalam sejarahnya, Kebangkitan nasional dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dimana ditandai dengan bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang tidak pernah muncul selama penjajahan berkuasa dan bumi pertiwi ini dikuasai oleh Belanda dan Jepang.
Pada awal berdirinya, organisasi Boedi Oetomo yang digagaskan pertama kali oleh Dr Wahidin Sudiro Husodo ini hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial budaya. Organisasi ini mendirikan sejumlah sekolah yang bernama Boedi Oetomo dengan tujuan berusaha memelihara serta memajukan kebudayaan Jawa. Anggota Boedi Oetomo terdiri dari kalangan atas suku Jawa dan Madura. Namun sejak tahun 1915 organisasi Boedi Oetomo mulai bergerak di bidang politik. Gerakan nasionalisme Boedi Oetomo yang berciri politik disebabkan oleh berlangsungnya Perang Dunia I. Peristiwa Perang Dunia I mendorong pemerintah kolonial Hindia-Belanda memberlakukan milisi bumiputera, yaitu wajib militer bagi warga pribumi.
Dalam perjuangannya di bidang politik, Boedi Oetomo memberi syarat untuk pemberlakuan wajib militer tersebut. Syarat tersebut adalah harus dibentuk terlebih dulu sebuah lembaga perwakilan rakyat (Volksraad). Usul Boedi Oetomo disetujui oleh Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum sehingga terbentuk Volksraad pada tanggal 18 Mei 1918. Di dalam lembaga Volksraad terdapat perwakilan organisasi Boedi Oetomo, yaitu Suratmo Suryokusomo.
Menyadari arti penting organisasi bagi rakyat, maka pada tahun 1920 Boedi Oetomo mulai menerima anggota dari masyarakat biasa. Dengan bergabungnya rakyat biasa ini, menjadikan Boedi Oetomo menjadi sebuah organisasi pergerakan rakyat dengan ditandai oleh pemogokan kaum buruh untuk menuntut kehidupan yang lebih baik.
Sejak tahun 1930, Boedi Oetomo membuka keanggotaannya untuk seluruh rakyat Indonesia. Dengan seiringnya waktu, dalam bidang politik Boedi Oetomo mempunyai cita-cita untuk membuat Indonesia merdeka. Dengan hal ini Boedi Oetomo berubah menjadi sebuah organisasi dengan tujuan nasionalisme.
Untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia tersebut, pada tahun 1935, Boedi Oetomo bergabung dengan Partai Bangsa Indonesia (PBI) yang didirikan oleh Dr. Sutomo. Kemudian dari dua organisasi ini melebur menjadi satu dalam partai Indonesia Raya (Parindra) yang diketuai oleh Dr. Sutomo.
Namun menurut beberapa sumber, kebangkitan nasional sebenarnya berawal dari berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo. Sarekat ini awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu. Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.
Untuk memperingatinya, tanggal berdirinya Boedi Oetomo yakni 20 Mei 1908, di peringati sebagai hari kebangkitan nasional. (Sumber : http://indoberita.com)

Kemendikbud Rintis Program Pendidikan Keluarga

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan merintis program pendidikan keluarga di lima ribu lembaga pendidikan seluruh Indonesia. Mayoritas dari jumlah itu ialah sekolah, mulai dari SD hingga SMA sederajat.

Rinciannya ialah 900 PAUD akan merintis program itu, SD (1.500), SMP (1.200), SMA (400), SMK (300), Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (600) serta sanggar kegiatan belajar (100).

‎"Program pendidikan keluarga akan diselenggarakan di lembaga pendidikan formal maupun nonformal mulai tahun ini,” ucap Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Harris Iskandar, Rabu (12/8).

Saat ini, Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat telah menyeleksi daerah dan satuan pendidikan yang akan menyelenggarakan program tersebut.‎
“Target sasaran program pendidikan keluarga tersebar di seluruh provinsi, 100 kabupaten/kota dan 300 kecamatan,” sebut Harris.
Sumber : Media Online http://www.jpnn.com/

MENUJU SANGGAR KEGIATAN BELAJAR UNGGUL DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) merupakan tempat pembelajaran dan pusat informasi kegiatan pendidikan Nonformal .
Bahwa SKB harus memahami dinamika aspirasi masyarakat terhadap lembaga. Dalam menuju SKB unggul harus berorientasi pada pelanggan artinya SKB harus mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginan masyarakat tentang lembaga pendidikannya.
Dengan demikian maka akan terjadi kepuasan pada masyarakat tentang pelayanan mengikuti pendidikan. Walaupun suatu lembaga pendidikan dalam meningkatkan kepuasan pelanggan memerlukan pelayanan (service) berupa program dan fasilitas yang perlu modal banyak.
SKB berorientasi pelanggan setidaknya harus ada pelayan internal dan eksternal. Pelayanan internal dapat dikatagorikan pelayanan bidang administrasi, supervisi dan managemen dalam operasional lembaga yang berhubungan dengan pembelajaran Pendidikan Nonformal. Sedangkan pelayanan eksternal adalah pelayanan pada warga belajar dan masyarakat luas.
Jika kita cermati SKB harus ada pelayanan baik internal maupun eksternal hal ini minimal ada enam fungsi SKB antara lain sebagai berikut :
1. Pembelajaran/Bimbingan/Pelatihan.
Fungsi ini merupakan pokok untuk mencapai tujuan utama keseluruhan

lembaga SKB.


2. Percontohan kegiatan Pendidikan Nonformal.
Suatu kegiatan yang telah diujicoba

3. Pelayanan khusus kepada warga belajar/masyarakat.

Fungsi ini mencakup usaha yang berhubungan dengan warga belajar.

Tetapi tidak berhubungan dengan Pembelajaran dan kegiatan ujicoba dan
percontohan.

4. Managemen.

Fungsi ini merupakan ciri usaha yang berhubungan dengan Tupoksi lembaga.

Usaha ini merupakan kewajiban urusan Pimpinan , Tata Usaha, Pamong
Belajar. Managemen dalam pengertian ini memberikan dukungan pelayanan
dalam kegiatan organisasi SKB

5. Supervisi.

Fungsi ini adalah mencakup dengan pengajaran tetapi juga berhubungan

dengan warga belajar.

6. Administrasi.

Bidang administrasi umum dalam operasional SKB merupakan usaha secara

erat yang berhubungan dengan pengajaran atau terhadap Warga belajar

Dari uraian di atas timbul suatu pertanyaan, “apakah SKB yang berorientasi pelanggan akan dapat meningkatkan mutu pendidikan ?”

Jika dianalisis keseluruhan fungsi utama SKB di atas secara operasional berhubungan dengan pengajaran. Pengajaran inilah yang akan mempengaruhi hasil pembelajaran. Hal ini digambarkan oleh Syafaruddin (2002) dalam buku Managemen Mutu Pendidikan Terpadu dalam Pendidikan sebagai berikut :

Managemen…………..>Pelayanan……………>,Pembelajaran………>Hasil Belajar
Pelayanan terdiri dari Pelayanan: (1) Supervisi. (2)Administrasi, (3)Khusus Warga belajar
Mencermati kerangka di atas, jika segala pelayanan ditingkatkan maka akan meningkatkat pula hasil belajar siswa dengan meningkatnya hasil belajar siswa secara tidak langsung akan meningkat pula mutu pendidikan.
Selanjutnya perlu ditambahkan dan diperjelas bahwasanya, SKB berorientasi pelanggan merupakan salah satu variabel menuju SKB unggul. Hal ini jangan sampai dibalik, “SKB unggul adalah SKB berorientasi pelanggan”. Dikatakan demikian karena dalam SKB unggul atau SKB efektif (Excellent base School) menurut Beare, dkk (1989) dalam buku Creating an Excellent School , bahwa :
Untuk menjadi Lembaga unggul atau lembaga efektih adalah harus memperhatikan ; pelayanan pelanggan, peningkatan produktivitas, sumber daya managemen, pembiayaan program, gaya managemen SKB (School) , pemasaran, akuntabilitas terhadap stakeholder, memasukan tenaga ahli, kontribusi pendidikan terhadap ekonomi, dan respon terhadap kekuatan pasar.
Jadi SKB yang hanya berorientasi pada kontek pelanggan kiranya masih jauh menuju SKB unggul (Excellent School). Hanya saja orientasi pada kontek pelanggan merupakan kunci sukses SKB untuk menuju keberhasilan pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.
Penilik Jakarta Timur

Di terbitkan Oleh : Arif Nasdianto Pendidikan nonformal Informal

Pandangan dan Analisis Penilik tentang Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)

Di Teruskan By. SKB Bireuen ( Ijal )

 
Copyright © 2015 SKB Bireuen. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Ijalnewbie and Zarqive Studio-Design